| DAFTAR REMEDIAL MATEMATIKA KELAS XI IPS 1 & 2 | |||
| NO | NAMA | ||
| 1 | AFRYAN NAZLI R H | ||
| 2 | ARI RIZKY | ||
| 3 | DARA AYU SADIANTI RUKMANA | ||
| 4 | DESSY INTANSARI | ||
| 5 | FLORENTINA PRATIWI | ||
| 6 | LAYUTSA N A | ||
| 7 | M ANGGA DIAN SAPUTRA | ||
| 8 | SHELA RIZKITA DEWI | ||
| 9 | YUNITA | ||
| 10 | ADE FENNY YULIANA | ||
| 11 | ALDI ADHARI PINANGGI | ||
| Martapura, 11 Desember 2013 | |||
| Muhammad Arsyad, S.Pd | |||
Senin, 16 Desember 2013
REMEDIAL MATEMATIKA XI IPS 1 & 2
REMEDIAL MATEMATIKA XI IPA 1
| DAFTAR REMEDIAL MATEMATIKA KELAS XI IPA 1 | |||
| NO | NAMA | ||
| 1 | ANJAR RAHMATILLAH | ||
| 2 | HALIMAH | ||
| 3 | LISDA NORFITRIYANTI | ||
| 4 | NIMAS LINTANG AYUNING P | ||
| 5 | NURUL KAMILI | ||
| 6 | RAHIMAH | ||
| 7 | RAHMAWATI | ||
| Martapura, 11 Desember 2013 | |||
| Muhammad Arsyad, S.Pd | |||
REMEDIAL MATEMATIKA X SOS
| DAFTAR REMEDIAL MATA PELAJARAN MATEMATIKA X SOS | |||
| NO | NAMA | NO | NAMA |
| 1 | AJ PRIAFUDDIN | 34 | ABD HALIM |
| 2 | ANGGUN MAHARANI | 35 | AISYFA INTISHARIDHA |
| 3 | APRILINA PUTRI IMANNI | 36 | BINTANG IHZA MUJADDID |
| 4 | DIAN LOVERIA DEVITASARI | 37 | DINAR PRASETIYO |
| 5 | EDWIN THOMAS RAMADHANY | 38 | FARAH NIDA SARY |
| 6 | ELLY YANTI | 39 | FRANGKI CAHYO ADI SAPUTRA |
| 7 | FARIS IMANI WIBOWO | 40 | HANI FITRIANI |
| 8 | GITA INDRIANI | 41 | LIA RAHMI |
| 9 | HUSNUL NORMAWATI | 42 | M MUJAHIDIN A B |
| 10 | INTAN PRATIWI SUNDARI | 43 | MEILISA |
| 11 | KAMALIA AMATULLAH ADILA | 44 | MUHAMMAD YASIR |
| 12 | MUHAMMAD AHDI | 45 | NINGRUM HARDIYANTI |
| 13 | M DICKY SETIAWAN | 46 | NUR KHOLISOH |
| 14 | MAWADDAH WARAHMAH | 47 | NUR RIZKA AMALIA |
| 15 | MUHAMMAD AKBAR FEBRIAN | 48 | NURUL HAFIJAH |
| 16 | MUHAMMAD ARIYADI | 49 | NURUS SIFA |
| 17 | MUHAMMAD HUSIN AKBAR | 50 | RAKHMANIA RAMADANTI |
| 18 | MUHAMMAD KHOIRY | 51 | RIZKY YULITA R |
| 19 | M RAMA AULIA ASIKIN | 52 | YUDA MALAY SANDI |
| 20 | MUHAMMAD RIZALDY | 53 | ZULFIKAR RIDWAN NAHDI |
| 21 | MUHTASAR IHYA | 54 | AGRANATA OCTAFHA |
| 22 | MUTHIA KHAIRUNNI * | 55 | AULIA NURHASANAH |
| 23 | NADIA HARDINI PUTERI | 56 | AYU SRI REZEKI |
| 24 | NADIA HUMAIDA | 57 | CHYNTIA NADILLA |
| 25 | NIKEN ANGGRAENI | 58 | HAMZAH AL ASHAR |
| 26 | NUR AYUNI FADHLIYATI | 59 | KHOLIDA ANNISA |
| 27 | NURUL SOFA | 60 | MUHAMMAD ALFIANNOR |
| 28 | OKTAMA PUTRADHILA ASR *IN | 61 | MAIDA HARIANTI |
| 29 | RIYAN EKA WARDHANA | 62 | MUHAMMAD HAIKAL ZAIDAN |
| 30 | RIZQIA RISNAWATI | 63 | MUHAMMAD HAIQAL ZIKR YA |
| 31 | TIKA RAHYANI | 64 | MUHAMMAD RIFANI |
| 32 | MUHAMMAD ZAKI MAULANA | 65 | RATU CINDYA MAHYUDIN |
| 33 | WAWAN TRIATMOJO | 66 | RAUDATUL JANNAH |
| Martapura, 11 Desember 2013 | |||
| Muhammad Arsyad, S.Pd | |||
Kamis, 11 April 2013
Sebagian Jokpin dalam Kepalaku
Pembacaan atas puisi Joko
Pinurbo “Ranjang (10)”
Sebagai seorang pembaca puisi,
saya termasuk orang yang meyakini bahwa penyair dan pembaca memiliki peluang
yang sama akan kehadiran puisi. Puisi terlahir dari rahim kejujuran seorang penyair
dalam keheningan, tanpa ada intervensi dari pembaca. Begitu pun demikian,
pembaca memaknai puisi-puisi dengan tanpa intervensi.
Di titik tersebut, pembaca
sejatinya memproduksi pemaknaannya sendiri atas kode-kode yang tersirat dibalik
puisi. Kita para pembaca membaca tak harus ditunjuk di muka – bahwa karya ini
maksudnya ini,karya yang itu, maksudnya itu. Puisi, setelah kelahirannya adalah
dirinya sendiri. Ia menjelma menjadi objek yang terpisah dari ibunya, yakni penyair
itu.
Puisi mengajak kita
berbolak-balik berfantasi, mengecek realitas. Pikiran kita di pihak lain, akan
mencari kosa kata2 yang dapat mewakili makna tersebut. Seringkali, usaha tersebut
berhasil. Tak jarang pula, kita tersesat diantara tanda-tanda.
Beberapa puisi terlahir dalam
tanda-tanda yang rumit, seringkali dalam rangkaian kata yang tidak saling
mengkait, jika kita cari ia dalam pikiran sadar. Entah, apakah karena kosakata
yang begitu rapat untuk membuka dirinya kepada kita, para pembaca. Atau, kita
para pembaca yang perlu untuk memahami realitas, memahami mimpi, serta mencerap
tanda-tanda yang berserakan itu, dari banyak buku-buku.
Sebuah puisi, terlahir dalam
proses pendalaman perasaan dan pikiran. Sebuah proses yang melibatkn banyak
kode literer dari buku-buku. Sebuah hasil dari keteguhan penyair memasuki dunia
sunyinya.
Para pembaca, melalui sebuah
puisi selalu dihadirkan tanya akan siapa ibu itu, siapa yang menemukannya,
diantara makna-makna yang menumpuk, membusuk dalam pikiran kita. Setiap penyair
secara tidak langsung meninggalkan kesannya masing-masing melalui proses
kreatifnya.
Joko Pinurbo adalah salah satu
penyair itu. Bisa dibilang, puisi Jokpin lebih bernuansa surealis. Bahasannya seringkali
tak jauh dari celana, burung, ranjang, atau perempuan. Menurut Sapardi Djoko
Damono, bila Jokpin (sapaan akrabnya) membacakan puisinya sendiri di tengah
pentas. Tak jarang penonton akan tertawa karena bahasan-bahasan dalam puisinya.
Ini menurut SDD, karena ketika puisi dilisankan mungkin sekali yang tertangkap
oleh penonton adalah sekadar permainan makna atas suatu bahan lelucon (celana,
burung).
Istilah-istilah tersebut begitu
dekat dengan kehidupan kita. Di puisi Jokpin, Istilah-istilah seakan hidup
dalam caranya. Ia hidup lantas mengajari kita manusia tentang beragama hal. Ini
salah satu puisi jokpin yang coba saya baca secara berbeda.
Ranjang (10)
Pada suatu petang ia datang ke taman
Yang terhampar hijau di atas
ranjang
Ia mencopot baju, menyalakan
lampu
Kemudian membaca buku di atas
makam
“ini tempat suci. Dilarang membaca
buku porno disini,”
Kata seseorang dibalik nisan.
Ia lari tunggang langgang
sebelum sempat
Mengenakan kembali pakaian.
Ia perempuan gila, dulu pernah
memperkosa adam
Dan menghabisinya di atas
ranjang.
(1998)
Jika kita maknai dalam
pengertian yang sebenarnya. Mungkin akan banyak orang yang terheran. Itu ngapain
baca buku porno di makam. Namun, sebuah puisi yang terlahir mendapatkan pemaknaannya
sendiri-sendiri. Ada beberapa istilah yang menarik untuk kita beri tanda tebal,
misal : ranjang, makam, buku porno, telanjang, memperkosa. Dalam pemaknaan
saya, ada banyak metafor yang dimainkan oleh Jokpin. Sebagai metafor, maka ia
menjadi representasi dari makna.
Ranjang adalah sebuah tempat
privat kita. Di ranjang, kita hadir dalam ketelanjangan kita sebagai manusia. Karena
pada umumnya, di ranjang kita tidur, maka disana ranjang juga menjadi
representasi batas antara kehidupan nyata dan mimpi, antara sadar dan bawah
sadar.
Pada suatu petang ia datang ke
taman/Yang terhampar hijau di atas ranjang/. Pernahkah kita berjalan-jalan
di taman yang hijau saat petang? Apa yang kalian rasakan? Suasana yang muncul
dalam benak saya adalah sebuah perasaan nyaman. Petang, disana merepresentasikan
masa depan, keinginan. Taman yang hijau turut menekankan kondisi tersebut. Di ujung
kalimat, di atas ranjang, merepresentasikan bahwa kalimat-kalimat sebelumnya
adalah mimpi. Freud dalam bukunya The
Interpretion Of Dream menekankan bahwa mimpi adalah pemenuhan harapan. Melalui
mimpi, ada kode-kode, gambar-gambar yang menjalin sedemikian cara hingga
merepresentasikan harapan dalam bawah sadar kita. Dua bait pertama ini,
menekankan gambaran dari harapan sosok tersebut.
Ia mencopot baju, menyalakan lampu/Kemudian membaca buku di atas makam/.
Baju adalah representasi dari apa yang ada diluar kemanusiaan kita. Sesuatu yang
terkadang menutupi identitas kemanusiaan kita, bahkan sesuatu yang terkadang
menipu pandangan kita. Buku merepresentasikan usaha membuka pikiran. Makam menjadi
representasi dari batas terjauh kemampuan imajinasi manusia akan waktu. Ia mencopot
baju adalah usaha darinya untuk memisahkan diri dari sesuatu di luar tubuh manusianya.
Sebuah usaha menemukan dirinya. Membaca buku adalah usahanya membaca realitas,
mencerap segala tanda di semesta pemikiran. Di atas makam, artinya adalah usaha
terjauhnya dalam apa yang ia lakukan.
“ini tempat suci. Dilarang membaca buku porno disini,” /Kata seseorang
dibalik nisan/. Namun, ia membaca buku porno. Porno menjadi sesuatu yang
dilarang dalam lingkup sosial kita. Meski bersetubuh lumrah dilakukan oleh
manusia. Siapapun, apapun status sosialnya. Ia tetap saja dianggap telah
melanggar batas imajinasi terliar. Membaca buku porno menjadi representasi dari
usaha imajinasinya melintasi batas social yang barangkali membatasinya. Sehingga
ia dilarang. Meskipun, ia tidak menyakiti siapa-siapa.
Ia lari tunggang langgang sebelum sempat/Mengenakan kembali pakaian/.
Tunggang langgang menandakan bahwa sosok pada puisi tersebut mengalami
keterdesakan atas larangan yang diterimanya. Keterdesakan yang membuatnya tak
mampu untuk menunjukkan kepatuhannya pada realitas. Ia tak sempat berpakaian. Disini
menggambarkan kondisi yang berkebalikan dari anggapan orang kebanyakan. Bahwa keadaan
dapat membuat segala hal terjadi, termasuk tak mampu menunjukkan kepatuhan pada
aturan sosial yang berlaku.
Ia perempuan gila, dulu pernah memperkosa adam/Dan menghabisinya di
atas ranjang/. Namun apa? Gila dalam hal ini adalah alam bawah sadar yang
membuka dirinya pada realitas kesadaran. Alam bawah sadar menyimpan
harapan-harapan yang terekam memori bersama waktu. Kenapa ia membuka dirinya ke
alam sadar? Karena ia telah tertekan, ia dilarang untuk membuka dirinya terlalu
jauh. Bahwa, ia juga tertekan karena mimpinya dirampas. Ada yang menarik, bahwa
di akhir jokpin mengasih tahu kita bahwa sosok tersebut adalah seorang
perempuan. Di tengah masyarakat patriarki, posisi perempuan masih tidak
seimbang. Seringkali masih dianggap sebagai objek. Dengan memperkosa adam,
merepresentasikan sebuah perlawanan atas dominasi. Perempuan disini adalah
perempuan yang tangguh. Segala aturan-aturan sosial tentang ketelanjangan dan
porno seakan mendapatkan anti klimaksnya di akhir puisi ini. Bahwa seberapa pun
tabu untuk dibahas sebuah tema tentang kehakikian hidup. Pada kenyataannya, ia
terjadi dan kita tunduk akannya, sebagai manusia.
Jokpin, mencoba bercerita
tentang suatu hal. Namun, ia menyisipkan cerita itu dalam susunan kata yang
rapat. Kalau sudah begini, dapatkah kita mentertawakan puisinya?[]
Senin, 18 Maret 2013
Perempuan di Titik Nol
Apa yang dapat kita nilai mengenai seorang pelacur tentang
hidupnya? Kebanyakan dari kita mungkin akan memandang nyinyir. Tapi pernahkah
kita mendengar suara dari seorang pelacur tentang hidupnya sendiri? Barangkali kita
harus mengkoreksi penilaian kita yang nyinyir itu. Karena penilaian yang
demikian mengekalkan sesuatu kuasa. Kuasa yang seringkali tidak kita sadari
menjerat sebagian dari kita. Dan kita dibuat takut oleh kuasa tersebut. Ketakutan
yang menggenang dalam benak kita hingga menimbulkan keseragaman atas suatu
penilaian. Ketakutan yang tidak tersadari.
Melalui Firdaus, kita mendapatkan gambaran psikologis
seorang perempuan tentang perjalanan hidupnya di tengah dominasi lelaki. Latar belakang
Mesir, lingkungan Firdaus semasa hidupnya merupakan lingkungan yang patriarki. Lingkungan
yang memandang bagaimana sikap dan langkah seorang perempuan mesti diatur dalam
beragam cara dan penilaian. Kondisi tersebut dibangun dari pengaturan hal – hal
kecil dalam rumah hingga bagaimana hukum negara memandang perempuan yang
seharusnya.
Nawal el - Saadawi menggambarkan detail psikologis Firdaus melalui
novel Perempuan di Titik Nol. Nawal sempat datang dan berbicara langsung dengan
Firdaus di penjara setelah sebelumnya, Firdaus sangat sulit ditemui. Firdaus adalah
seorang perempuan yang divonis hukuman mati karena membunuh seorang lelaki yang
adalah germonya sendiri. Seorang dokter penjara pernah mengusulkan kepada Firdaus
agar dirinya mengajukan permohonan grasi kepada presiden, ia menolaknya. Ia menerima
hukuman tersebut dengan berani. Menurutnya, vonis tersebut merupakan
satu-satunya jalan menuju kebebasan sejati.
Firdaus terlahir dari
sebuah keluarga petani yang miskin. Ayahnya tidak bisa baca tulis. Ia memiliki
banyak saudara meski satu persatu meninggal karena sakit. Di rumah, ayah
mempunyai kuasa penuh. Seringkali ayah menyuruhnya pergi ke ladang. Di malam
yang dingin dalam rumah sempit itu, ayahnya lah yang berbaring dekat tungku
perapian. Sementara ia dan saudaranya di sudut rumah. Ibunya terkadang berada
di samping ayah, untuk mendapatkan kehangatan. Sejak kecil, ia melihat ibunya
membasuh kaki ayahnya. Untuk selanjutnya, ia pun melakukan hal demikian.
Ia lebih dekat dengan
paman dibanding ayah. Pamannya adalah seorang terpelajar. Seorang yang mengecap
pendidikan tinggi di kairo, El Azhar. Saat ayahnya meninggal, pamannya yang
memasukkannya di sekolah dasar. Sejak ibunya meninggal, ia ikut pamannya
tinggal di Kairo. Paman menikah dengan seorang wanita yang berpendidikan dan
cukup terpandang. Kelas menengah memandang hubungan lelaki perempuan sedikit
lebih lunak. Dan, karena paman secara ekonomi berada di bawah istri, maka
dominasi suami menjadi kecil di dalam rumah. Di kairo, Firdaus sekolah di
asrama, sekolah menengah.
Sewaktu lulus dari
sekolah menengah. Saat itulah berbagai hal berubah. Paman dan bibinya
bersepakat untuk tidak melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi karena
biaya. Demikian, ia dinikahkan dengan seorang lelaki tua, Syekh Mahmoud. Meski
kaya dan terpandang, lelaki itu pelit. Ketika makan, piring Firdaus dipelototi.
Dagu suaminya bernanah, semacam bisul. Sehingga saat bercinta, sering ia
memalingkan wajah karena tak tahan dengan bau dari bisul itu. Demikian, ia yang
muda dan memiliki minat pada pendidikan menjalani hidup yang tidak
dikehendakinya.
Suatu ketika ia
dipukuli oleh suaminya dengan sepatu dan mengadu pada paman dan bibinya. Jawaban
mereka datar seakan itu hal yang biasa-biasa saja. “Semua istri tak berhak
mengeluh tentang suaminya. Kewajiban istri adalah kepatuhan yang sempurna.”,
demikian pamannya berujar dan ia mesti kembali ke rumah.
Jalanan adalah tempat
mengadu baginya. Suatu saat ia tidak tahan dengan perlakuan suaminya. Dengan wajah
biru oleh pukulan, ia menangis di jalanan. Ia lari dari rumah dan bertemu seorang
lelaki, Bayoumi, pemilik kedai kopi. Di rumah Bayoumi yang lelaki bujang itu,
ia tinggal untuk sementara waktu. Berbekal ijazah sekolah menengah ia bermaksud
mencari pekerjaan. Untuk sesaat, ia merasa nyaman diperlakukan Bayoumi. Waktu terus
berjalan, ia tak kunjung mendapat kerja untuk kemudian hengkang dari rumah Bayoumi.
“kedekatan” dirinya dengan Bayoumi berangsur berubah cara. Bayoumi tidak lagi
lembut. Demikian, kembali lagi, ia mendapati kuasa lelaki yang penuh nafsu atas
tubuhnya. Ia tak tahan dan lari, kembali ke jalanan.
Dirinya tertekan oleh
keadaan. Untuk berbicara, ia melihat ke tanah. Ia dipertemukan dengan seorang
wanita, Sharifa Salah El Dine. Jalannya tegak. Suatu cara jalan yang berbeda. Jalan
yang penuh keyakinan diri. Apartemennya besar. ia tinggal disana, tamu lelaki
sering datang ke apartemen tersebut, lelaki dari kelas atas. Di ranjang, ia
mendapati beragam lelaki. Namun ia tidak mendapati “nikmat”, ia justru merasa
nyeri. Tidak ada cinta. Saat itu, ia berangsur menyerupai Sharifa. Pandangannya
lurus, jalannya tegak.
Atas suatu hal, ia
dihadapkan pada sebuah fakta. Sharifa mendapatkan uang dari dirinya, hasil dari
tidur dengan beragam lelaki. Merasa ditipu, ia kembali ke jalan namun dengan
cara jalan yang berbeda. Ia berjalan tegak. Ia tinggal sendiri di apartemen
dengan beragam tamu lelaki kelas atas.
Hingga suatu hari, ia
bertemu dengan teman lelakinya. Dari teman lelaki berpendidikan itu, ia
berdiskusi tentang banyak hal. Dirinya memang memiliki minat pada kebudayaan
sejak sekolah. Dengan suatu cara, suatu kata diucapkan lelaki tersebut
membuatnya merasa teringat dan terpukul. Tentang status sosialnya. Bagaimanapun
ia memiliki berlimpah materi, ia menjual dirinya. Itu menghantuinya. Ia merubah
arah hidup. Ia tidak lagi tidur dengan lelaki. Ia bekerja di sebuah perusahaan.
Hidupnya tidak lagi di apartemen, ia tinggal di kontrakan kecil.
Ia dibesarkan oleh
keadaan yang luka terhadap lelaki. Tidak pernah ia merasakan cinta. Di kantor,
ia bertemu lelaki. Ia melihat cara memandang seorang lelaki yang berbeda terhadapnya.
Meski luka terhadap lelaki belum hilang sepenuhnya, ia mampu berkompromi. Ia menyerahkan
dirinya sepenuhnya, di ranjang, dengan cara berbeda. Ia tidur dengan lelaki
itu, tanpa nyeri.
Namun, tak berapa
lama, keadaan berubah. Lelaki tersebut menikah dengan seorang putri direktur. Dirinya
ditipu. Bayangan ayah, paman, Syekh Mahmoud, Bayoumi kembali hadir. Ia kembali
sakit hati terhadap lelaki. Berangsur, ia kembali tidur dengan beragam lelaki,
kelas atas.
Sekarang ia benar –
menutup diri untuk lelaki soal perasaan. Baginya, semua penderitaan adalah
akibat lelaki. Ia menghargai dirinya dengan uang. Ia dikenal, bayarannya mahal.
Suatu ketika, germonya
mengajaknya menikah. Ia tidak mau. Ia dipaksa, sebuah pisau di tangan germonya.
Lukanya kepada lelaki terakumulasikan dalam suatu mekanisme pertahanan diri. Ia
berhasil menghindar dan menghunuskan pisau tersebut ke leher germonya. Seketika,
Ia begitu ringan mencabut pisau di leher germonya, menancapkan di dada,
mencabutnya lagi, menancapkannya di perut.
Tidak terpikirkan, ia
merasa kuat dalam balutan penuh kelembutan seorang perempuan. Oleh pengadilan,
ia divonis hukuman mati. Meski begitu, ia menerima dengan keberanian. Baginya,
para lelaki menghukum mati dirinya, karena merasa terancam.
***
Selalu ada refleksi ketika kita membaca karya sastra. Pikiran
kita masuk ke dalam struktur karya, lalu kembali lagi ke kehidupan nyata, masuk
lagi, kembali lagi. Entah berapa kali pikiran kita bolak balik mengulang
pertanyaan, menelisik tanda-tanda diantara keduanya.
Sebagai lelaki dan (sebagai manusia tentunya), membaca karya
ini adalah sebuah tamparan yang menyesakkan. Betapa kebenaran hadir melalui
mekanisme perjalanan yang rumit dan berliku. barangkali, kebenaran tidak melulu
hadir melalui mekanisme pembelaan diri. Barangkali, kebenaran juga hadir
melalui dinding sempit penjara, dingin dan sunyi.
Firdaus seakan hadir di belakangku. Menyaksikanku menulis
review ini. Seketika, aku merasa menjadi begitu pengecut.
Langganan:
Komentar (Atom)